Kamis, 07 September 2023

Review Buku: Noda Tak Kasat Mata (Agnes Jessica)

        Ketika buku ini selesai dibaca, terasa sangat bermakna. Karena ini adalah buku pertama yang mampu aku selesaikan sejak sekitar 10 tahun yang lalu mengalami reading slump. HAHAHA. Baik, abaikan. Mari kita ulas buku ini seobjektif mungkin (semoga). Sebelumnya, aku kasih warning dulu bahwa isi tulisan ini kemungkinan mengandung SPOILER. Jika kamu sudah membaca buku ini atau tidak masalah akan hal itu, yuk mari lanjut~



cr: bukudig.blogspot.com


Judul        : Noda Tak Kasat Mata
Penulis     : Agnes Jessica
Jenis         : Fiksi (Novel)
Halaman   : 192 halaman
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Tahun        : 2008

 Ringkasan Cerita

        Cerita diawali dengan prolog yang menceritakan tentang suasana di malam pembantaian anggota PKI di suatu desa di Jombang, Jawa Tengah, pada tahun 1965. Satu keluarga yang terdiri dari suami, istri yang sedang hamil tua dan anak perempuan berusia 4 tahun meringkuk ketakutan di dalam rumah gubuk menunggu waktu kedatangan pembantai. Sampai pada suatu ketukan di pintu, keluarga itu tahu bahwa mereka akan kehilangan kepala keluarga mereka. Namun, sang ayah tetap tegar memenuhi ketukan itu dengan harapan istri dan anak-anaknya selamat. Tanpa disangka, sang putri berusia 4 tahun yang tanpa tahu apa-apa mengikuti rombongan yang membawa sang ayah hingga ke sebuah ladang. Di sana ia menyaksikan secara langsung kepala sang ayah yang ditebas hingga tewas. Anak perempuan itu pingsan, dan prolog selesai.
        Bab satu dimulai 33 tahun setelah kejadian prolog. Pada tahun 1998, seorang mahasiswi jurusan sejarah bernama Sarah berencana mengulik sejarah pembantaian anggota PKI pada tahun 1965 untuk memenuhi tugas akhir sarjana. Ia berniat meluruskan kembali sejarah yang mengatakan bahwa korban pembantaian PKI adalah penjahat. Padahal menurutnya, orang-orang itu hanya korban pergolakan politik. Mereka hanya orang awam tak berdosa dan bahkan mungkin tidak tahu apa itu komunis. Berlandaskan kepentingan tersebut, ia akhirnya memutuskan menginap selama 1 minggu di suatu desa di Jombang, Jawa Tengah. Atas izin dari pembimbing skripsinya, Sarah pun berangkat dari Jakarta ke Jombang dan menginap di rumah kepala desa yang memiliki seorang anak perempuan seusia Sarah bernama Lastri. Lewat Lastri, Sarah membangun cerita dengan tokoh-tokoh di desa itu yaitu Sudirman dan ayahnya Pak Jandi, Arif dan ayahnya Pak Sanip, Dewi yang merupakan gadis bisu dengan masa lalu tragis, dan Surya pemuda petani bawang yang dingin dan juga merupakan adik Dewi si gadis bisu. Lewat orang-orang itu, Sarah mengejar informasi mengenai pembantaian anggota PKI pada tahun 1965, meski ia tahu bahwa tidak mudah mengorek luka pada saksi langsung peristiwa mengerikan itu. Pada perjalanannya, ia menemukan sekaligus kehilangan cinta dan merasakan hilangnya persahabatan.

Review Berdasarkan Unsur Interinsik

Tema

        Sejak awal-awal membaca lembaran novel ini, tanggapanku seperti, "Wah, berat sekali nih temanya." Penulis dengan latar belakang yang belum ku ketahui mengangkat tentang salah satu sejarah kelam dan sensitif di Indonesia. Novel fiksi, mengangkat tema tentang sejarah. Luar biasa bukan? Apalagi sejarah tentang politik yang merupakan perkara yang bisa dikatakan tidak boleh sembarang bicara. Sudut pandang beliau dalam novel ini juga agak membuat ketar-ketir, membela korban pembantaian PKI, jika aku tidak bisa mengatakan beliau ada di pihak PKI. Jujur saja aku hampir tak ingin melanjutkan membaca dikarenakan hal ini. Benar, aku orang awam yang tentu saja memegang pengetahuan bahwa PKI adalah musuh negara. Tetapi aku tetap melanjutkan membaca dengan pertimbangan bahwa tidak ada salahnya melihat dari sudut pandang berbeda. Tema yang diangkat beliau juga membuatku ingin mengetahui lebih jauh tentang sejarah bangsa ini, terutama mengenai PKI.

Tokoh dan Penokohan

        Kemunculan tokoh-tokoh pada novel ini sudah pas sesuai porsinya. Jumlahnya juga tidak ada yang mubazir, alias tiap tokoh memiliki perannya masing-masing untuk membangun konflik cerita. Kecuali Pak Jandi sih. Di cerita ini Pak Jandi berperan sebagai antagonis di masa lalu, yang perannya hanya diceritakan lewat tokoh lain. Hampir tidak ada manfaatnya di dalam cerita. Di novel ini juga Pak Sanip diceritakan masih hidup, tetapi hampir tidak pernah muncul karena sering pergi berobat. Dia juga tidak ada interaksi dengan tokoh utama karena dalam novel ini, tokoh Pak Jandi digambarkan sebagai tokoh yang pikun. Rasanya kalau penulis menjadikan tokoh ini "sudah meninggal" juga tidak ada masalah. Tetapi itu semua adalah pilihan penulis. Cerita selalu memiliki cabang, dan akhir dari perjalanan cerita adalah pilihan terbaik yang dirasakan penulis.
        Mengenai penokohan, karakter tiap tokoh tidak cukup kuat, kecuali tokoh protagonis perempuan dan antagonis laki-laki yaitu Sarah dan Sudirman. Sementara itu, tokoh Surya selaku protagonis laki-laki terkesan tidak konsisten. Mungkin penulis bermaksud menggambarkan pengembangan karakter Surya, tetapi masih belum halus. Di satu bab kita akan mendapati tokoh Surya ini sebagai seseorang yang dingin, agak kasar, berpendirian teguh. Namun, masih dalam bab yang sama tiba-tiba kepribadiannya menjadi hangat. Agak terlalu cepat untuk seseorang yang memiliki trauma masa lalu yang kuat dan kehidupan yang pahit. Penggambaran tokoh Lastri juga tidak konsisten. Lewat penggambaran tokoh lain, karakter Lastri dikatakan pemaaf dan tidak mudah marah. Namun, sepanjang novel, penggambaran ini tidak terbukti. Tindak tanduk tokoh Lastri sepanjang cerita juga tidak mencerminkan demikian.

Alur

        Novel ini beralur maju. Alurnya cepat untuk genre drama dan percintaan, jadi kamu akan kurang merasa mendapatkan empati kepada tokoh-tokoh cerita karena penyampaian yang terlalu terburu-buru. Hal ini jugalah yang mungkin membuat pengembangan karakter tokoh terasa cepat dan kurang halus sehingga ketika berusaha mendalami ceritanya, kamu mungkin berpikir, "Lah, ini Surya? Kok kek orang lain." Apa tuh sebutan kerennya? Out of character? Ya, semacam itulah.

Latar

        Aku suka latar tempatnya. Berada di pedesaan dan fokus di sana. Penggambaran latar tempat tidak terlalu deskriptif, namun kamu tetap bisa membayangkan suasana di sana. Surya dengan kebun bawangnya, perjalanan di pematang sawah, rumah kediaman pak kepala desa beserta Lastri, dan rumah gubuk tempat cerita cinta Surya dan Sarah bersemi dan penuh kenangan. Latar waktu yang digambarkan pada novel ini sangat menarik karena membawa kita ke sejarah kelam masa lalu. Kejadian dimulai tahun 1965, lalu melompat ke sepanjang tahun 1998. Tapi detail mengenai kejadian-kejadian besar kurang digambarkan. Misalnya keadaan rakyat yang kesulitan ekonomi akibat krisis moneter. Namun, ada detail kecil lain yang justru penulis tunjukkan seperti telepon umum dan biaya berobat ke dokter yang masih di rentang sepuluh ribuan. Suasana tak harmonis amat terasa ketika kita membaca novel ini. Ya, kan latar tempatnya sebagian besar di desa doang. Jadi, jelas banget itu mah antar tetangga pada bermusuhan. Bukan antar tetangga ding. Lebih tepatnya antar kelompok korban dan pelaku pembantaian. Permusuhan secara diam-diam ini terjadi selama bertahun-tahun dan mempengaruhi kehidupan orang-orangnya. Ada yang pikun sampai harus rutin berobat, cinta yang terhalang, dan nama baik yang tercemar. Ide penulis sangat bagus dengan menampilkan konflik kecil-kecil seperti itu untuk membantu konflik utama. Tapi aku rasa eksekusinya yang kurang. Sekali lagi, terlalu cepat. Semuanya serba tiba-tiba. Sehingga suatu masalah yang tampaknya amat pelik, kalau dari sudut pandang penulis lain, mereka akan berpikir, "Wah, ini penyelesaiannya gimana ya? Bakal panjang nih." Namun, ternyata penulis menyelesaikannya dengan singkat berbagai masalah tersebut. Ibunya Dewi dan Surya harus mati. Itulah penyelesaiannya, maka segala keresahan tokoh lain terselesaikan begitu saja. Cerdas sih kalau kata aku, wkwk. Hanya saja sebagai pembaca awam, penyelesaian seperti itu seperti tanpa garam. Hambar, dan tidak meninggalkan kesan kuat di benak pembaca.

Sudut Pandang

        Sudut pandang yang dipakai adalah pov orang ketiga. Ini sudut pandang kesukaanku sih ya, karena penulis bisa bebas menceritakan apa saja, tidak terbatas. Apakah pemilihan sudut pandang ini tepat dipakai pada novel? Menurutku sudah tepat. Karena peristiwa-peristiwa penting pada novel ini banyak yang bukan dialami karakter utama sendiri. Meski pun memakai sudut pandang berubah-ubah antara sudut pandang orang pertama dan ketiga sah-sah saja, asalkan ditempatkan di alur yang tepat.

Gaya Bahasa

        Sederhana, tapi menggunakan bahasa Indonesia yang baku sehingga ada sedikit kesan elegan pada penyampaian beliau. Ini adalah salah satu daya tarik dari novel-novel Agnes Jessica, yang membuatku ingin menyelami karya-karya beliau lagi dan lagi. Bagi yang suka membaca novel santai seperti teenlit, mungkin gaya bahasa beliau cenderung kaku dan membosankan. Tetapi, tulisan beliau ini bagus kamu baca jika kamu adalah seorang penulis atau calon penulis. Secara garis besar, novel ini beralur santai, bahasanya sederhana, namun berkelas.

Amanat

        BANYAK BANGET!! Kamu ga tau aja aku sepanjang membaca novel ini sering misuh-misuh ke karakter Sarah. Jatuh cintanya itu loh tidak tau kondisi. Dia mengkhianati Lastri, sahabat barunya. Meski tidak sepenuhnya bisa dikatakan berkhianat karena ternyata hanya Lastri yang berharap cinta Surya. Tapi setidaknya ada etika sedikitlah gitu ya, Wak. Dia kan 22 tahun toh. Sudah dewasa, bukan lagi remaja yang sedang dimabuk cinta monyet. Mana dia sudah punya pacar juga lagi di Jakarta. Surya, Gunawan, Lastri, sama menyebalkannya. Kenapa jadi misuh-misuh ya fergusso?
        Sini sini aku bagi pelajaran hidup yang dapat kamu ambil setelah membaca novel ini:
  1. Mengorek masa lalu yang kelam itu tidak sopan ya, Wak. Kecuali kamu berniat baik dan memastikan ada timbal balik positif bagi si narasumber.
  2. Kalau dalam suatu hubungan, jadi cowok jangan plin plan (cewek juga sih). Kalau iya bilang iya, kalau tidak ya bilang tidak. Jangan hati anak orang digantung, lu pikir ikan asin? Si Surya tuh kayak ratu drama. Prinsipnya nyusahin hidup, kasian Lastri dan dirinya sendiri.
  3. Permusuhan yang menyebabkan luka psikis, memang tidak mudah diperbaiki. Kedua belah pihak harus mengerti itu. Tetapi tidak menjadi alasan untuk tetap mempertahankan permusuhan.
  4. Jangan seenaknya menarik kata-kata yang berhubungan dengan perasaan manusia lain. Perasaan partner kamu bukan mainan. Tokoh cowok di novel ini pada plin plan dan egois manusianya. Heran.
  5. Apa pun alasannya, berkhianat itu perbuatan yang buruk.    

        Sekian review dari Aksarandria yang alakadarnya. Buku ini bukan terbitan terbaru di tahun ini atau 5 tahun terakhir. Malah ini termasuk buku lama. Tetapi aku memilih tetap menulis review yang bertujuan untuk mengunci ingatan agar bisa diambil manfaatnya, juga sebagai referensi untuk kamu jika memang belum membaca buku ini. Ketika aku menyinggung bahwa ini adalah buku pertama yang aku selesaikan setelah reading slump selama 10 tahun, aku rasa kamu dapat menarik kesimpulan bahwa novel karya Agnes Jessica ini merupakan tulisan yang ringan dan enak dibaca. Apakah aku akan membaca karya-karya beliau yang lain? Yes! Novel karya beliau selalu ringan, namun bahasanya berkualitas. Cocok untuk kamu sebagai referensi belajar menyusun novel, jika kamu seorang penulis atau calon penulis.