Sabtu, 18 Mei 2019

Berawal Dari Kafe Hujan




November. Di bulan ke-11 dalam perhitungan kalender Masehi ini hujan semakin meningkatkan intensitasnya. Udara dingin di mana-mana. Nafas pun terasa beruap. Langit yang selalu kelabu di atas sebuah kota kecil nan hijau. Di salah satu sudut kota yang sangat asri ini, mengepul asap dari sebuah pondok yang juga berwarna hijau segar. Senada dengan pemandangan di sekitarnya. Ruang depan ditutupi dengan dinding kaca berwarna hijau. Memberi kesan sejuk bila pelanggan memandangnya. Hujan buatan yang mengalir di dinding kaca menjadi ciri khas sebuah tempat bernama Rain Café. Namun, kali ini bukanlah imitasi. Hujan memang mengguyur deras memanjakan telinga orang-orang yang berada di ruangan itu. Pelanggan di sana umumnya mereka yang bersahabat dengan ketenangan.
“Ah, tiada yang lebih menyenangkan selain di sini,” celetuk salah satu dari pengunjung itu.
“Ha ha ha, bisa saja kamu,” respon teman di sebelahnya.
Di lain sudut. Masih di dalam Rain Café. Seorang pria berambut gondrong tampak menyendiri. Menatap setangkai mawar yang menatap tegak menantang balik matanya. Jarinya meraba duru-duri halus mawar itu, dan mata tajam yang seolah menatap mawar itu nyatanya menerawang tak pasti. Kosong. Enam menit yang lalu ia telah memesan secangkir latte. Belasan menit yang lalu ia bertengkar hebat dengan ayahnya, lagi. Dia lari saat itu, menghindari sang ayah yang terus meneriakinya. Yang menyebabkan ia terserempet motor dan terjengkang menghantam aspal yang keras di tengah guyuran hujan. Sisa kejadian itu tampak pada pelipis dan juga lengan kirinya yang luka. Begitupun rambutnya. Masih menyisakan tetes air hujan. Begitu terus kronologi peristiwa masa lalu terus berputar di kepalanya.
Dari yang baru beberapa saat terjadi hingga pikirannya melompat ke peristiwa yang telah jauh sebelumnya. Termasuk mata gadis pembuat latte yang sejak tiga hari yang lalu entah mengapa hobi sekali memandanginya. Hingga saat ini. Ia membelokkan sedikit kepalanya ke kiri mengarah pada bar tempat gadis itu sedang meracik latte pesanannya. Menghujam balik tatapan itu dan berhasil membuat gadis yang diam-diam memandanginya salah tingkah. Baron, nama pria itu, ia tersenyum sinis dan membuang muka. Menggelikan dan sangat mengganggu, pikirnya.
Sesaat kemudian latte nya tiba. Diantar oleh orang yang sama dengan tiga hari yang lalu. Juga yang suka mencuri pandang padanya. Dialah Delila. Baron cukup mengenalnya, karena mereka bertetangga. Seharusnya Baron lebih dari cukup mengenal dengan jarak tinggal mereka yang sedekat itu. Namun, karena persamaan mereka yang jarang bersosialisasi satu sama lain membuat mereka mengenal hanya sebatas nama dan saling pandang saja. Delila sendiri seringkali mendengar ketidakharmonisan Baron dengan ayahnya. Tak jarang juga menyaksikan laki-laki itu mengakhiri tengkarnya dengan membanting pintu pagar keras-keras. Baron tidak begitu akrab dengan teman-temannya. Saat itu Delila mengira pastilah Baron menenangkan pikiran dengan pergi ke suatu tempat. Ke warnet atau apa.
Sama seperti pertama kali ia datang dan memesan pesanan yang sama. Kali ini pun kening Baron berkerut melihat ke permukaan kopi itu. Setelah sebelumnya tertulis 'Hai' kali ini tertulis 'Apa kabar?' yang ditulis dalam tulisan tegak bersambung.
“Apa-apaan sih anak itu?” Desis Baron geram.
Walau begitu ia tetap menikmati kopi itu di tengah suasana dingin yang mendukung. Hujan masih setia membasahi dedaunan rimbun di sekitar Rain Café. Pengunjung di sana pun datang dan pergi silih berganti, sehingga jumlahnya tampak tak berkurang juga tak bertambah.
Pakaian Baron mulai mengering. Latte yang masih mengeluarkan uap sedikit demi sedikit dihirupnya. Terasa air yang hangat itu mengalir turun menuju pencernaannya. Terasa sangat nyaman. Sedikit mencairkan pikirannya yang membeku. Kembali ia teringat akan ayahnya di rumah. Satu-satunya orang tua yang ia punya. Kadang ada rasa sesal yang merayapi dadanya mengingat apa yang telah ia lakukan pada orang tua itu.
Namun ada pula rasa sakit hati. Mengingat ayahnya yang bersikeras menyuruhnya melanjutkan kuliah. Bukan bermaksud tidak bersyukur, ia hanya mengira itu akan sia-sia untuknya. Bayangkan saja biaya yang akan ditanggung ayahnya jika ia melanjutkan kuliah. Sedang jika ia menyelesaikan kuliahnya pun ia belum tentu juga mendapatkan pekerjaan. Sama saja artinya masa depannya belum terjamin. Ayahnya seringkali sok tahu tentang masa depannya. Memangnya apa yang orang tua itu tahu? Inikan hidupnya. Dialah yang paling tahu bagaimana nanti kehidupannya, pikirnya. Terbesit suatu kenyataan. Bahwa ia belum memikirkan satu pun jalan buat masa depannya. Ia menjambak rambutnya. Terukir ekspresi frustasi di wajah itu. Akhirnya ia meninggalkan latte nya yang tinggal seperempat dan pergi ke meja tempat pembayaran.
“Berapa, Pak?” Tanyanya kepada seorang pria tua sambil merogoh kantong.
“Tujuh ribu saja, Nak,” jawab pria itu. Ia adalah pemilik Rain Café yang memiliki empat pekerja lain selain Delila.
“Tidak menunggu saja, Nak? Di luar masih hujan,” ujar pria itu menawarkan.
“Tidak, Pak. Terima kasih. Ini uangnya.”
“Terima kasih kembali, Nak.” Sambil melangkah menuju pintu keluar, Baron sempat menyadari mata itu masih terus menatapnya.
***
Dua hari berikutnya, dalam suasana hujan yang sama. Baron kembali menjajaki kakinya di lantai Rain Café. Meletakkan payungnya begitu saja dalam keadaan terbuka. Kali ini ia tak lagi dalam keadaan berantakan. Tidak juga dengan keadaan hati yang bergelut. Tidak ada pertengkaran pagi ini. Mungkin ayahnya telah bosan menceramahinya. Atau mungkin ayahnya menyadari tak ada gunanya memukul batu. Ia tidak akan berubah dari pendiriannya.
Tempat itu masih lengang. Baron memilih tempat kesukaannya, di dekat dinding kaca di dekat sudut ruangan. Begitu sepi dan tenang.
“Mau pesan apa?”
Seorang pelayan menghampirinya. Tidak, bukan Delila. Entah mengapa hanya dirinya yang tak pernah dihampiri oleh gadis itu.
“Latte seperti biasa. Eh Mbak, kalau boleh tahu siapa saja pembuat latte di kafe ini?”
“Pembuat latte cuma satu orang. Dik Delila. Karena cuma dia yang pintar membuat latte art di sini. Untuk jenis kopi lain ada beberapa orang lainnya,” Jelas pelayan itu. Kemudian ia berlalu.
Baron sebenarnya tak terlalu menghiraukan buatan siapa kopi kesukaannya itu. Rasanya memang enak. Beberapa saat kemudian pesanannya telah sampai. Namun lagi-lagi ada tulisan diatasnya, bukan gambar seperti latte art pada umumnya. Kali ini bertuliskan 'kabar ayah?' yang juga dalam tulisan tegak bersambung. Baron kembali gusar. Saat ia memandang siapa yang baru saja meletakkan kopi itu di mejanya, ternyata wajah Delila di sana.
“Hei, tunggu!” Baron menarik lengan gadis itu sebelum ia sempat berlalu. Delila berusaha melepaskan cengkraman itu. “Apa maksudmu menuliskannya? Aku tidak mengerti.”
“Tolong lepaskan,” Delila berontak.
“Tidak, jawab dulu.”
“S, saya pekerja di sini. Tidak baik berbicara saat bekerja.” Akhirnya genggaman Baron meregang. “Permisi,” ucap Delila sambil membungkukkan badan. Kemudian dengan cepat ia berlalu.
Baron mematung. Orang-orang di sana sempat menatap aneh ke arahnya. Kemudian kembali sibuk dengan kesibukan masing-masing. Baron kembali duduk. Pikirannya menerawang. Kejadian barusan sangat mengusiknya. Tingkah gadis itu membuatnya penasaran. Ia bertekad untuk menemuinya dan mencari tahu dari mulutnya langsung.
***
“Cepat katakan apa maumu.” Baron mencegat Delila di depan rumahnya. Saat itu pukul empat sore. Delila baru saja pulang dari tempat kerjanya. Ia terkejut akan kehadiran laki-laki itu. “Hei, ayo bicara. Aku tahu di kafe tadi hanya alasanmu. Nah, sekarang katakan apa maksudmu menuliskan tulisan-tulisan aneh di latte ku. Pelanggan yang lain hanya gambar seperti biasa. Hanya untukku yang berbeda.”
Delila berusaha untuk bersuara. Walaupun ia agak takut dengan orang yang ada di hadapannya itu.
“A, ayo kita berteman.”
“Hah?!” Baron memfokuskan pendengarannya.
“A, aku tidak tahu cara mengajakmu untuk jadi temanku. Ma, makanya aku….”
“Menuliskan kalimat-kalimat aneh di atas kopi ku? Haaahhh…. Cuma itu saja kan bisa langsung bicara!” Suara Baron meninggi.
“Aku takut.” Delila menunduk. Baron diam. Ia tampak berpikir.
“Apa wajahku terlihat seram?” Tanyanya dan dibalas anggukan oleh Delila.
Baron membuang nafas. Kini misteri Delila telah terpecahkan. Tak disangkanya karena alasan sesederhana itu.
“Baik, sekarang kita berteman. Jangan lagi takut padaku. Dan juga jangan memandangku seolah aku ini monster yang akan mengunyahmu sewaktu-waktu. Sekarang aku ini te-man-mu! Mengerti?” Jelas Baron dengan menekankan kata teman di kalimatnya. Delila mengangguk dan tersenyum senang. “Ayo kita rayakan,” ajak Baron.
“Kemana?”
“Ke kafe. Aku mau minum latte kesukaanku.” Baron berlari menuju Rain Café.
“Hei! Rain Café sudah tutup!” Teriak Delila. Sontak langkah Baron terhenti. Delila kini menyusulnya.
“Bagaimana ke kafe mawar saja di dekat taman?” Usul Baron.
“Boleh saja. Hei, aku mau tahu apa rencana mu untuk kedepannya.”
Baron memandang gadis itu.
“Maksudmu?” Baron balik bertanya.
“Untuk masa depan mu,” jawab Delila. Baron membuang muka.
“Kau sudah seperti ayahku.”
“Ayahmu tidak salah. Tidak mengherankan jika setiap orang tua mengkhawatirkan masa depan anaknya.”
Baron menerawang mencoba mencerna kata-kata gadis itu.
“Aku hanya tidak ingin kuliah itu saja. Ayah seringkali menganggapku seperti anak kecil.”
“Justru tingkahmu yang membuatmu seperti anak kecil. Jangan sering minggat dari rumah. Kan kasihan ayahmu,” nasihat Delila padanya. “Tidak apa-apa. Kamu Cuma harus memikirkan sesuatu yang bias membuatmu sukses tanpa kuliah,” ujarnya lagi.
“Seperti pebisnis?”
“Yap!” Jawab Delila bersemangat. Dia mulai terbiasa dengan laki-laki itu.
“Bisnis apa coba? Aku tidak punya ide.”
“Hmm… apa ya? Aku juga belum memikirkannya. Sebisa mungkin aku ingin membantu.”
Sepi menyelimuti keduanya. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing. Suasana di sore itu mendung membuat langit terlihat gelap lebih awal.  
“Bagaimana kalau kita membuka kafe kecil-kecilan. Aku akan mengajarimu membuat latte,” usul Delila memecah kesunyian.
“Ide bagus! Kau pembuat latte yang hebat. Mungkin ayah akan menyetujuinya. Akan ku bicarakan nanti dengannya. Mudah-mudahan ia mau mengerti.” Delila hanya mengangguk. Mereka berbicara sambil berjalan dengan santai. “Del, umurmu 16 tahun kan? Lebih muda dariku. Omonganmu sudah seperti nenek-nenek.” Delila tertawa mendengarnya.
“Daripada kakek-kakek berbicara seperti anak-anak. Kamu tuh. Dewasa sedikit.”
“Ha ha ha, iya. Aku seperti anak kecil. Menurutmu, apa nanti usahaku akan sukses?”
Delila tampak berpikir sebelum memberikan jawaban. Kemudian ia tersenyum.
“Kamu yang tahu bagaimana akhirnya nanti. Sudah ah! Bicaranya serius terus. Sudah mulai gerimis, ayo cepat! Yang terakhir sampai traktir ya…”

 Delila tertawa-tawa sambil berlari mendahului Baron yan tampak kaget karena ditinggal. Kemudian ia juga ikut berlari mengejar gadis itu. Gerimis sedikit demi sedikit semakin mengguyur deras menjadi hujan. Mereka melindungi kepala mereka dengan punggung tangan masing-masing. Masih terus berlari. Menuju kafe mawar untuk merayakan hari ini. Ditemani hujan yang setia mengguyur  dan tak ada yang tahu kapan ia akan berhenti.

Selasa, 14 Mei 2019

Cinta Hutan Cemara



06.00…
Seperti biasa, sekolahku masih lengang. Aku juga telah beberapa menit yang lalu berada di sini. Di bangku taman belakang sekolah ini. Jika ada yang mengira aku di sini untuk menikmati tumbuhan di taman ini, mereka salah. Aku justru sedang fokus mengamati hutan cemara yang berada beberapa puluh meter di belakang sekolahku. Hutan itu agak gelap dan sangat sepi. Lebih tepatnya menyeramkan. Tapi entah mengapa aku sangat mengagumi hutan itu. Hutan yang begitu damai dan penuh ketenangan. Inilah hal yang selalu membuatku rindu untuk datang lebih awal ke sekolah ini. Sssh, semilir angin membelai ranting-ranting cemara itu, aku terpaku. Mengapa begitu indah ciptaan Tuhan yang satu ini.
“Ka, met pagi! ke kelas yuk. Aku mau ngomong soal rapat OSIS besok.” Siska membangunkanku dari lamunan. Baiklah, waktunya kembali ke dunia nyata.
***
“Yurika, kamu ada waktu gak nanti siang?” Male tiba-tiba menyapaku.
”Emangnya kenapa?”
“Nggak ada sih, ng…nanti makan siang bareng mau ya.”
“Waduh Le, gak bisa deh kayaknya. Aku ada janji nih sama Siska. Lain kali aja yah!” Aku pun bergegas pergi.
Risih juga sih, tiap hari diikutin mulu. Gak bosan apa ya tuh orang? Aku aja yang diikutin bosan kok. Kalau dilihat dari gelagatnya kayaknya tuh orang naksir deh sama gue. Hah, tapi sorry aja. Saat ini mood pacaran yang ku rasa sudah gak ada. Ya, terakhir Raya. Cowok sialan itu. Kalau dasarnya memang playboy ya tetap playboy. Akhirnya kandas juga. Yang namanya cowok tuh nggak usah dipercaya deh. Awalnya sih kata-kata mereka memang manis, tapi yakinlah semua itu nggak tulus. Tapi jomblo juga nggak enak lho. Kesepian, gak jarang juga timbul rasa iri sama teman yang lagi romantis-romantisnya. Tapi bukan perasaan itu yang kurasakan saat ini. Walaupun tidak punya pacar aku tetap tak merasa kesepian, karena aku bisa terus menikmati suasana hutan cemara yang ada di depanku. Sssshhh…ranting-ranting cemara melambai-lambai. Hmm, hutan cemaraku, sepertinya aku tak kan pernah bosan tuk mengagumi keindahanmu.
Sedang asyiknya aku melamun, tiba-tiba aku melihat sesuatu di hutan itu. Aku tersentak kaget. Walaupun selalu kagum, tapi bayangan itu tetap bisa membuat nyaliku ciut. Aku penasaran dengan apa yang kulihat barusan. Akhirnya aku memberanikan diri. Kakiku mendekat perlahan. Bayangan itu kembali muncul. Walau sekilas tapi aku melihatnya, sosok seorang gadis kecil. Dan sepertinya dia sedang kesusahan karena aku juga melihat beberapa orang pemuda yang sepertinya sedang marah. Seorang dari mereka tampak memukulnya. Mataku terbelalak. Keberanianku mendadak muncul dan aku pun melangkah masuk ke hutan itu, guna menghajar pemuda yang memukul gadis tadi. Aku terus melangkah, melangkah dan terus melangkah. Tanpa kusadari aku telah begitu jauh masuk ke dalam hutan cemara yang semakin gelap.
Langkahku baru terhenti di depan sebuah rumah tua. Sangat menyeramkan. Itulah kesan pertamaku saat melihatnya. Rumah papan yang di penuhi tanaman merambat. Aku agak bingung, ini hutan cemarakan? Aku melihat ke sekeliling dan ternyata ini memang di dalam hutan cemara. Kok malah rumah menyeramkan ini yang ku temui? Sedangkan bayangan-bayangan tadi telah lenyap. Bulu kudukku merinding.
“Hiyyyy…..kenapa sih pake acara masuk kesini segala? Aku kan takut. Kalau bayangan gadis kecil itu sekarang nggak ada, jadi apa dong yang kulihat tadi? Malah ada rumah lagi di hutan sepi begini.”
Karena terlalu takut akhirnya aku hanya duduk di bawah salah satu pohon cemara tak jauh dari rumah tua itu. Aku tak tau harus berbuat apa, aku terlalu takut. Aku juga tak mengerti mengapa aku bisa masuk ke hutan ini. Dan gadis kecil yang kulihat tadi, semua telah lenyap. Saat itu aku menyadari aku hanya sendiri, benar-benar sendiri. Bulu kudukku kembali merinding saat aku mendengar suara tangisan seorang anak. Aku sempat berpikir suara itu berasal dari dalam rumah tua, tapi masa sih rumah kayak gini ada penghuninya. Suara tangisan itu terasa tak jauh, dan semakin jelas terdengar. Entah mengapa rasa takutku mendadak hilang, malah sekarang rasa iba yang muncul di hatiku. Dengan perlahan aku mencoba menelusuri di sekitar rumah tua itu. Sesekali aku melihat jam tangan yang melingkar cantik di pergelangan tanganku. Bel pulang telah sejam yang lalu berbunyi. Hmm, biarkan sajalah. Aku masih penasaran dengan segala yang kujumpai di hutan ini.

Berapa kalipun ku telusuri tetap tak ku temui juga asal suara itu. Sedangkan hari telah menjelang malam.  Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tua itu. Walaupun gelap ternyata di dalamnya tak seseram yang kukira, terlihat klasik malah. Walau ada banyak debu di sana-sini. Akupun memilih untuk berbaring di sofa tua di ruangan itu. Hahhh…perasaanku begitu tenang setelah kepalaku ku darat kan di sofa itu. Rasa lelah dan perasaan takutku pun hilang. Tiba-tiba suara itu muncul lagi. Aku tersentak kaget. Dengan perasaan was-was aku pun berjalan ke arah datangnya suara. Tibanya di sebuah kamar, aku melihat sosok seorang gadis kecil yang kulihat dari bangku taman tadi pagi. Bersama pria muda di sampingnya yang sepertinya sedang menenangkan gadis kecil itu.
“Diamlah Letta, kan sudah kubilang kau tidak usah lagi memata-matai Alex. Biarkan dia bertindak sesuka hatinya. Aku yakin suatu saat ibu pasti tahu.”
“Aku tak bisa membiarkannya bertindak semaunya terhadapmu, kau bisa terluka.” Isak tangis mengiringi suara gadis kecil itu.
“Aku akan lebih terluka bila kau yang terluka.” Pria itu mendekapnya. Gadis itu tampak lebih tenang sekarang. “Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sana?” Tiba-tiba pria itu berkata. Aku yakin pertanyaan barusan adalah untukku karena dia menanyakan “siapa”. Aku kaget. Dia membelakangiku dan tak melihatku sama sekali. Bagaimana bisa dia menyadari kedatanganku? Dia memandangku dari sudut matanya untuk memastikan bahwa aku memang di sana, sedang gadis itu masih ada di dekapannya.
“A,aku? Ma, maaf aku masuk tanpa izin, tadinya aku hanya penasaran dengan suara gadis kecil yang sedari tadi terdengar. Ta, tapi karena hari telah gelap, jadi aku…….”
“Tidak masalah. Hmm, masuklah. Akan kuperkenalkan kau padanya.” Dia menunjukkan wajahnya. Wow…tampan sekali makhluk satu ini. Siapakah dia dan mengapa dia ada di sini? Sepertinya dia orang asing karena terlihat dari rambutnya yang pirang dan hidungnya yang mancung. Dan dia tersenyum kepadaku, bibirnya seksi sekali.
Aku melangkah perlahan mendekati mereka. Gadis kecil itu masih ada di dekapannya.
“Duduklah, aku ingin tahu siapa orang yang telah mengunjungi kediaman kami.” Walau bingung dengan perkataannya, aku tetap menurut. Kini aku ada di hadapannya, dan gadis itu sekarang di lepasnya. “Perkenalkan, dia Violetta. Adik perempuanku satu-satunya.” Aku melihat gadis bermata violet itu. Manis sekali, dan dia juga berambut  pirang.
“Hai, kau manis sekali,” ujarku sejujurnya. Gadis kecil itu kembali memeluk kakaknya.
“Dia pemalu, tapi dia anak yang baik kok. Aku Kevin. Kalau aku boleh tahu, bagaimana caramu menemukan rumah ini?” Aku menatap lekat-lekat wajahnya. Benar-benar ukiran maha karya. Aku tenggelam kedalam pesona indah matanya. Mata coklat muda yang berkilau. “ Hai, kau mendengarkanku bukan?”
“Eh,oh,maaf. Aku melamun. Bisa ulangi pertanyaanmu barusan?” Duuh Yurika…kamu tulalit banget sih.    
 “Ha ha ha.. aku bilang namaku Kevin, dan aku mau tahu caramu menemukan rumah ini, sekarang kau mendengarnya bukan?”
“Ehm..ya Kevin. Hutan ini pemandangan favoritku. Aku tak pernah absen untuk memandangnya setiap pagi dari taman sekolah. Tapi aku tidak tahu bahwa di hutan cemara ini ada rumah.”
“Tentu. Rumah ini jauh ke dalam. Oh ya,kamu….”
“Yurika, namaku Yurika.”
“Oke Yuri, apa alasanmu datang kemari?” Dia menatapku serius.
“Aku melihat Letta.” Dia hanya diam. Aku tahu bahwa dia telah mengetahui maksudku.
“Kau pasti melihatnya.”
“Tapi Kevin, apa yang terjadi? Siapa mereka? Mengapa mereka melakukan itu pada Letta?” Kevin hanya diam. 
“Mereka kakak-kakak kami. Dan Alex,kakak tertua kami, entah mengapa selalu memusuhiku. Dan sekarang Letta menjadi sasaran kebenciannya karena terus membelaku. Aku tak tau harus berbuat apa. Aku memang kakak yang tak berguna. Aku tak bisa melindungi satu-satunya adik yang kusayangi.”
Ada nada penyesalan di balik kalimat itu. Sementara itu Letta telah bisa lebih tenang dan menerimaku dengan baik.
“Kevin, aku tak tahu apa maksud dari perkataanmu barusan, tapi aku hanya bisa mengatakan, tak ada orang yang ingin melihat orang yang di sayanginya terluka, karena itulah kau harus selalau bisa melindungi adikmu yang paling kau sayang ini, bukan begitu Letta?” Letta menyunggingkan senyumnya.
“Ya!”
“Terima kasih atas nasihat mu. Sejujurnya aku agak bingung dengan pertemuan ini.”
“Mengapa harus bingung? Kurasa kedatangan ku kemari adalah takdir.” Kataku sembari tertawa.
“Ya kak! Dan apakah kakak tahu? Kakak adalah yang pertama!” Ucap Letta kecil.
“Apa? Apa maksudmu?”
“Sudahlah Letta, jangan bicara lagi. Bukankah kau harus pergi untuk tidur?”
“Baiklah kak!”
“Apa yang dimaksud Letta dengan yang pertama?” Aku bertanya karena aku benar-benar tak mengerti apa maksud gadis kecil itu berkata seperti itu. Dan sepertinya, Kevin berusaha menyembunyikan sesuatu dariku.
“Tidak Yuri, kau tak usah memikirkannya lagi. Oh iya, karena hari telah malam, bagaimana kalau malam ini kau menginap di sini? Maukan?”
“Baiklah. Terima kasih, memang itulah yang ku butuhkan.” Kevin tersenyum kepadaku, aku merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. “Kevin!”Aku menghentikan langkahnya ketika dia bermaksud keluar dari kamar itu.
“Ya? Ada apa Yuri? Apakah ada yang bisa kubantu?”
“Tidak, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja karena kau terlihat begitu pucat.”  Dia terkejut. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang mendadak serius.
“Tidak apa-apa Yuri, aku baik-baik saja. Aku sangat beruntung bisa betemu dengan teman yang sangat perhatian terhadapku, terima kasih. Selamat malam.” Dia pun meninggalkan ku sendiri di kamar itu.
Itulah pertama kali aku berkenalan dengan sosok Kevin. Tak pernah kusangka sebelumnya bahwa aku bisa bertemu dengan orang yang begitu tampan di tempat yang selama ini ku kagumi. Sejak kejadian itu aku selalu datang ke rumah tua itu untuk menemui Letta dan tentu saja Kevin. Aku telah menempatkannya di tempat paling istimewa di hatiku. Aku sangat mengaguminya. Dia selalu bisa membuatku tertawa. Dan dia sangat misterius. Karena itulah banyak hal yang tak ku ketahui tentang Kevin, begitu pula perasaannya terhadapku.

“Kevin!” Kataku pada suatu hari saat berada di rumah tua itu.
“Ya Yuri?”
“Bolehkah aku bersandar di bahumu? ”
“Ha ha..ya, boleh saja kalau kau memang menginginkannya." Aku merasa tenang saat berada di dekatnya. Dan saat itu juga aku tak bisa lagi untuk menahannya. Ya, aku harus mengatakannya.
“Kevin, aku sangat mencintaimu. Aku selalu tenang setiap bersamamu. Dan aku ingin kita selalu bersama. Bagaimana menurutmu?” Dia tak bersuara, hanya diam seribu bahasa. “Kevin, kau mendengarkanku bukan? Bagaimanakah menurutmu dengan perasaanku? Apakah kau juga memiliki rasa yang sama terhadapku?”
Tanpa kuduga sebelumnya, dia malah menjauh dariku.
“Aku…” Kalimatnya menggantung.
“Ada apa? Apa ada yang salah? Apa yang terjadi padamu?”
“Yurika, aku yang salah. Seharusnya dari dulu telah kukatakan. Tapi aku terlalu takut untuk mengatakannya. Maafkan aku Yurika, aku memang egois." Dia mundur beberapa langkah.
“Apa yang kau katakan? Aku tak mengerti apa maksudmu.” Dia menarik nafas.
“Yurika, kau tak boleh mencintaiku!” Aku terbelalak.
“Apa? Kenapa? Aku sungguh-sungguh mencintaimu!”
“Tidak Yuri. Kita berbeda. Kau dan aku benar-benar berbeda." Aku hampir menangis mendengar pengakuan darinya.
“Mengapa kau berkata seperti itu?”
“Dengar Yurika, aku hanya mengatakannya sekali. Aku… kau tak bisa mencintaiku. Kau dan aku takkan pernah bisa bersatu. Karena aku memang telah lama menghilang dari dunia ini.” Air mata yang dengan susah payah kutahan akhirnya mengalir juga.
“Apa?”
“Ya Yurika, bahkan sejak pertama kali kau mengenalku. Maafkan aku Yurika, aku benar-benar bodoh, hal sepenting ini seharusnya sudah lama ku katakan."
Aku benar-benar tak percaya, orang yang selama ini membuatku selalu bahagia, orang yang selama ini ku kasihi, hanyalah arwah. Aku terisak pelan. Semakin lama semakin keras, aku tak dapat membendungnya lagi. Aku telah mendengar pernyataan yang tak masuk akal, sangat membuatku terpukul.
“Yurika, kumohon jangan menangis. Aku….” Dia menyentuh kedua pipiku.
“Kau bohong! Tolong katakan bahwa kau berbohong padaku. Katakan bahwa kau memang masih hidup. Dan bahkan aku bisa merasakan kehangatan kedua tanganmu….hah!”
Saat itulah aku baru menyadari bahwa tangannya perlahan mengabur dan menghilang. Dan saat itu juga aku menyadari bahwa dia tak ada lagi di hadapanku. Aku berlutut, dia bahkan tak membalas perasaanku. Kau benar-benar jahat,aku tak ingin kehilangan dirimu.                                                                                                                     

Kevin
Maafkan aku karena meninggalkanmu. Aku benar-benar tak ada pilihan. Dan aku mohon jangan berpikir bahwa cintamu tak terbalas. Aku benar-benar mencintaimu, sangat. Tapi kita memang tak bisa bersatu. Kau jangan menangis karena kepergianku. Di luar sana ada seseorang yang mencintaimu. Datanglah padanya, aku yakin dia akan mampu membuatmu bahagia. Sekali lagi, kumohon jangan menangis cintaku Yurika.