Ketika buku ini selesai dibaca, terasa sangat bermakna. Karena ini adalah buku pertama yang mampu aku selesaikan sejak sekitar 10 tahun yang lalu mengalami reading slump. HAHAHA. Baik, abaikan. Mari kita ulas buku ini seobjektif mungkin (semoga). Sebelumnya, aku kasih warning dulu bahwa isi tulisan ini kemungkinan mengandung SPOILER. Jika kamu sudah membaca buku ini atau tidak masalah akan hal itu, yuk mari lanjut~
Judul : Noda Tak Kasat MataPenulis : Agnes JessicaJenis : Fiksi (Novel)Halaman : 192 halamanPenerbit : Gramedia Pustaka UtamaTahun : 2008
Ringkasan Cerita
Review Berdasarkan Unsur Interinsik
Tema
Sejak awal-awal membaca lembaran novel ini, tanggapanku seperti, "Wah, berat sekali nih temanya." Penulis dengan latar belakang yang belum ku ketahui mengangkat tentang salah satu sejarah kelam dan sensitif di Indonesia. Novel fiksi, mengangkat tema tentang sejarah. Luar biasa bukan? Apalagi sejarah tentang politik yang merupakan perkara yang bisa dikatakan tidak boleh sembarang bicara. Sudut pandang beliau dalam novel ini juga agak membuat ketar-ketir, membela korban pembantaian PKI, jika aku tidak bisa mengatakan beliau ada di pihak PKI. Jujur saja aku hampir tak ingin melanjutkan membaca dikarenakan hal ini. Benar, aku orang awam yang tentu saja memegang pengetahuan bahwa PKI adalah musuh negara. Tetapi aku tetap melanjutkan membaca dengan pertimbangan bahwa tidak ada salahnya melihat dari sudut pandang berbeda. Tema yang diangkat beliau juga membuatku ingin mengetahui lebih jauh tentang sejarah bangsa ini, terutama mengenai PKI.
Tokoh dan Penokohan
Alur
Novel ini beralur maju. Alurnya cepat untuk genre drama dan percintaan, jadi kamu akan kurang merasa mendapatkan empati kepada tokoh-tokoh cerita karena penyampaian yang terlalu terburu-buru. Hal ini jugalah yang mungkin membuat pengembangan karakter tokoh terasa cepat dan kurang halus sehingga ketika berusaha mendalami ceritanya, kamu mungkin berpikir, "Lah, ini Surya? Kok kek orang lain." Apa tuh sebutan kerennya? Out of character? Ya, semacam itulah.
Latar
Aku suka latar tempatnya. Berada di pedesaan dan fokus di sana. Penggambaran latar tempat tidak terlalu deskriptif, namun kamu tetap bisa membayangkan suasana di sana. Surya dengan kebun bawangnya, perjalanan di pematang sawah, rumah kediaman pak kepala desa beserta Lastri, dan rumah gubuk tempat cerita cinta Surya dan Sarah bersemi dan penuh kenangan. Latar waktu yang digambarkan pada novel ini sangat menarik karena membawa kita ke sejarah kelam masa lalu. Kejadian dimulai tahun 1965, lalu melompat ke sepanjang tahun 1998. Tapi detail mengenai kejadian-kejadian besar kurang digambarkan. Misalnya keadaan rakyat yang kesulitan ekonomi akibat krisis moneter. Namun, ada detail kecil lain yang justru penulis tunjukkan seperti telepon umum dan biaya berobat ke dokter yang masih di rentang sepuluh ribuan. Suasana tak harmonis amat terasa ketika kita membaca novel ini. Ya, kan latar tempatnya sebagian besar di desa doang. Jadi, jelas banget itu mah antar tetangga pada bermusuhan. Bukan antar tetangga ding. Lebih tepatnya antar kelompok korban dan pelaku pembantaian. Permusuhan secara diam-diam ini terjadi selama bertahun-tahun dan mempengaruhi kehidupan orang-orangnya. Ada yang pikun sampai harus rutin berobat, cinta yang terhalang, dan nama baik yang tercemar. Ide penulis sangat bagus dengan menampilkan konflik kecil-kecil seperti itu untuk membantu konflik utama. Tapi aku rasa eksekusinya yang kurang. Sekali lagi, terlalu cepat. Semuanya serba tiba-tiba. Sehingga suatu masalah yang tampaknya amat pelik, kalau dari sudut pandang penulis lain, mereka akan berpikir, "Wah, ini penyelesaiannya gimana ya? Bakal panjang nih." Namun, ternyata penulis menyelesaikannya dengan singkat berbagai masalah tersebut. Ibunya Dewi dan Surya harus mati. Itulah penyelesaiannya, maka segala keresahan tokoh lain terselesaikan begitu saja. Cerdas sih kalau kata aku, wkwk. Hanya saja sebagai pembaca awam, penyelesaian seperti itu seperti tanpa garam. Hambar, dan tidak meninggalkan kesan kuat di benak pembaca.
Sudut Pandang
Sudut pandang yang dipakai adalah pov orang ketiga. Ini sudut pandang kesukaanku sih ya, karena penulis bisa bebas menceritakan apa saja, tidak terbatas. Apakah pemilihan sudut pandang ini tepat dipakai pada novel? Menurutku sudah tepat. Karena peristiwa-peristiwa penting pada novel ini banyak yang bukan dialami karakter utama sendiri. Meski pun memakai sudut pandang berubah-ubah antara sudut pandang orang pertama dan ketiga sah-sah saja, asalkan ditempatkan di alur yang tepat.
Gaya Bahasa
Sederhana, tapi menggunakan bahasa Indonesia yang baku sehingga ada sedikit kesan elegan pada penyampaian beliau. Ini adalah salah satu daya tarik dari novel-novel Agnes Jessica, yang membuatku ingin menyelami karya-karya beliau lagi dan lagi. Bagi yang suka membaca novel santai seperti teenlit, mungkin gaya bahasa beliau cenderung kaku dan membosankan. Tetapi, tulisan beliau ini bagus kamu baca jika kamu adalah seorang penulis atau calon penulis. Secara garis besar, novel ini beralur santai, bahasanya sederhana, namun berkelas.
Amanat
- Mengorek masa lalu yang kelam itu tidak sopan ya, Wak. Kecuali kamu berniat baik dan memastikan ada timbal balik positif bagi si narasumber.
- Kalau dalam suatu hubungan, jadi cowok jangan plin plan (cewek juga sih). Kalau iya bilang iya, kalau tidak ya bilang tidak. Jangan hati anak orang digantung, lu pikir ikan asin?
Si Surya tuh kayak ratu drama. Prinsipnya nyusahin hidup, kasian Lastri dan dirinya sendiri. - Permusuhan yang menyebabkan luka psikis, memang tidak mudah diperbaiki. Kedua belah pihak harus mengerti itu. Tetapi tidak menjadi alasan untuk tetap mempertahankan permusuhan.
- Jangan seenaknya menarik kata-kata yang berhubungan dengan perasaan manusia lain. Perasaan partner kamu bukan mainan.
Tokoh cowok di novel ini pada plin plan dan egois manusianya. Heran. - Apa pun alasannya, berkhianat itu perbuatan yang buruk.
Sekian review dari Aksarandria yang alakadarnya. Buku ini bukan terbitan terbaru di tahun ini atau 5 tahun terakhir. Malah ini termasuk buku lama. Tetapi aku memilih tetap menulis review yang bertujuan untuk mengunci ingatan agar bisa diambil manfaatnya, juga sebagai referensi untuk kamu jika memang belum membaca buku ini. Ketika aku menyinggung bahwa ini adalah buku pertama yang aku selesaikan setelah reading slump selama 10 tahun, aku rasa kamu dapat menarik kesimpulan bahwa novel karya Agnes Jessica ini merupakan tulisan yang ringan dan enak dibaca. Apakah aku akan membaca karya-karya beliau yang lain? Yes! Novel karya beliau selalu ringan, namun bahasanya berkualitas. Cocok untuk kamu sebagai referensi belajar menyusun novel, jika kamu seorang penulis atau calon penulis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar