November.
Di bulan ke-11 dalam perhitungan kalender Masehi ini hujan semakin meningkatkan
intensitasnya. Udara dingin di mana-mana. Nafas pun terasa beruap. Langit yang
selalu kelabu di atas sebuah kota kecil nan hijau. Di salah satu sudut kota
yang sangat asri ini, mengepul asap dari sebuah pondok yang juga berwarna hijau
segar. Senada dengan pemandangan di sekitarnya. Ruang depan ditutupi dengan
dinding kaca berwarna hijau. Memberi kesan sejuk bila pelanggan memandangnya.
Hujan buatan yang mengalir di dinding kaca menjadi ciri khas sebuah tempat
bernama Rain Café. Namun, kali ini bukanlah imitasi. Hujan memang mengguyur
deras memanjakan telinga orang-orang yang berada di ruangan itu. Pelanggan di
sana umumnya mereka yang bersahabat dengan ketenangan.
“Ah,
tiada yang lebih menyenangkan selain di sini,” celetuk salah satu dari
pengunjung itu.
“Ha
ha ha, bisa saja kamu,” respon teman di sebelahnya.
Di
lain sudut. Masih di dalam Rain Café. Seorang pria berambut gondrong tampak
menyendiri. Menatap setangkai mawar yang menatap tegak menantang balik matanya.
Jarinya meraba duru-duri halus mawar itu, dan mata tajam yang seolah menatap
mawar itu nyatanya menerawang tak pasti. Kosong. Enam menit yang lalu ia telah
memesan secangkir latte. Belasan menit yang lalu ia bertengkar hebat dengan
ayahnya, lagi. Dia lari saat itu, menghindari sang ayah yang terus
meneriakinya. Yang menyebabkan ia terserempet motor dan terjengkang menghantam
aspal yang keras di tengah guyuran hujan. Sisa kejadian itu tampak pada pelipis
dan juga lengan kirinya yang luka. Begitupun rambutnya. Masih menyisakan tetes
air hujan. Begitu terus kronologi peristiwa masa lalu terus berputar di
kepalanya.
Dari
yang baru beberapa saat terjadi hingga pikirannya melompat ke peristiwa yang
telah jauh sebelumnya. Termasuk mata gadis pembuat latte yang sejak tiga hari
yang lalu entah mengapa hobi sekali memandanginya. Hingga saat ini. Ia
membelokkan sedikit kepalanya ke kiri mengarah pada bar tempat gadis itu sedang
meracik latte pesanannya. Menghujam balik tatapan itu dan berhasil membuat
gadis yang diam-diam memandanginya salah tingkah. Baron, nama pria itu, ia
tersenyum sinis dan membuang muka. Menggelikan dan sangat mengganggu, pikirnya.
Sesaat
kemudian latte nya tiba. Diantar oleh orang yang sama dengan tiga hari yang
lalu. Juga yang suka mencuri pandang padanya. Dialah Delila. Baron cukup
mengenalnya, karena mereka bertetangga. Seharusnya Baron lebih dari cukup
mengenal dengan jarak tinggal mereka yang sedekat itu. Namun, karena persamaan
mereka yang jarang bersosialisasi satu sama lain membuat mereka mengenal hanya
sebatas nama dan saling pandang saja. Delila sendiri seringkali mendengar
ketidakharmonisan Baron dengan ayahnya. Tak jarang juga menyaksikan laki-laki
itu mengakhiri tengkarnya dengan membanting pintu pagar keras-keras. Baron
tidak begitu akrab dengan teman-temannya. Saat itu Delila mengira pastilah
Baron menenangkan pikiran dengan pergi ke suatu tempat. Ke warnet atau apa.
Sama
seperti pertama kali ia datang dan memesan pesanan yang sama. Kali ini pun
kening Baron berkerut melihat ke permukaan kopi itu. Setelah sebelumnya
tertulis 'Hai' kali ini tertulis 'Apa kabar?' yang ditulis dalam tulisan tegak
bersambung.
“Apa-apaan
sih anak itu?” Desis Baron geram.
Walau
begitu ia tetap menikmati kopi itu di tengah suasana dingin yang mendukung.
Hujan masih setia membasahi dedaunan rimbun di sekitar Rain Café. Pengunjung di
sana pun datang dan pergi silih berganti, sehingga jumlahnya tampak tak berkurang
juga tak bertambah.
Pakaian
Baron mulai mengering. Latte yang masih mengeluarkan uap sedikit demi sedikit
dihirupnya. Terasa air yang hangat itu mengalir turun menuju pencernaannya.
Terasa sangat nyaman. Sedikit mencairkan pikirannya yang membeku. Kembali ia
teringat akan ayahnya di rumah. Satu-satunya orang tua yang ia punya. Kadang
ada rasa sesal yang merayapi dadanya mengingat apa yang telah ia lakukan pada
orang tua itu.
Namun
ada pula rasa sakit hati. Mengingat ayahnya yang bersikeras menyuruhnya
melanjutkan kuliah. Bukan bermaksud tidak bersyukur, ia hanya mengira itu akan
sia-sia untuknya. Bayangkan saja biaya yang akan ditanggung ayahnya jika ia
melanjutkan kuliah. Sedang jika ia menyelesaikan kuliahnya pun ia belum tentu
juga mendapatkan pekerjaan. Sama saja artinya masa depannya belum terjamin.
Ayahnya seringkali sok tahu tentang masa depannya. Memangnya apa yang orang tua
itu tahu? Inikan hidupnya. Dialah yang paling tahu bagaimana nanti
kehidupannya, pikirnya. Terbesit suatu kenyataan. Bahwa ia belum memikirkan
satu pun jalan buat masa depannya. Ia menjambak rambutnya. Terukir ekspresi
frustasi di wajah itu. Akhirnya ia meninggalkan latte nya yang tinggal
seperempat dan pergi ke meja tempat pembayaran.
“Berapa,
Pak?” Tanyanya kepada seorang pria tua sambil merogoh kantong.
“Tujuh
ribu saja, Nak,” jawab pria itu. Ia adalah pemilik Rain Café yang memiliki
empat pekerja lain selain Delila.
“Tidak
menunggu saja, Nak? Di luar masih hujan,” ujar pria itu menawarkan.
“Tidak,
Pak. Terima kasih. Ini uangnya.”
“Terima
kasih kembali, Nak.” Sambil melangkah menuju pintu keluar, Baron sempat
menyadari mata itu masih terus menatapnya.
***
Dua
hari berikutnya, dalam suasana hujan yang sama. Baron kembali menjajaki kakinya
di lantai Rain Café. Meletakkan payungnya begitu saja dalam keadaan terbuka.
Kali ini ia tak lagi dalam keadaan berantakan. Tidak juga dengan keadaan hati
yang bergelut. Tidak ada pertengkaran pagi ini. Mungkin ayahnya telah bosan
menceramahinya. Atau mungkin ayahnya menyadari tak ada gunanya memukul batu. Ia
tidak akan berubah dari pendiriannya.
Tempat
itu masih lengang. Baron memilih tempat kesukaannya, di dekat dinding kaca di
dekat sudut ruangan. Begitu sepi dan tenang.
“Mau
pesan apa?”
Seorang
pelayan menghampirinya. Tidak, bukan Delila. Entah mengapa hanya dirinya yang
tak pernah dihampiri oleh gadis itu.
“Latte
seperti biasa. Eh Mbak, kalau boleh tahu siapa saja pembuat latte di kafe ini?”
“Pembuat
latte cuma satu orang. Dik Delila. Karena cuma dia yang pintar membuat latte
art di sini. Untuk jenis kopi lain ada beberapa orang lainnya,” Jelas pelayan
itu. Kemudian ia berlalu.
Baron
sebenarnya tak terlalu menghiraukan buatan siapa kopi kesukaannya itu. Rasanya
memang enak. Beberapa saat kemudian pesanannya telah sampai. Namun lagi-lagi
ada tulisan diatasnya, bukan gambar seperti latte art pada umumnya. Kali ini
bertuliskan 'kabar ayah?' yang juga dalam tulisan tegak bersambung. Baron
kembali gusar. Saat ia memandang siapa yang baru saja meletakkan kopi itu di
mejanya, ternyata wajah Delila di sana.
“Hei,
tunggu!” Baron menarik lengan gadis itu sebelum ia sempat berlalu. Delila
berusaha melepaskan cengkraman itu. “Apa maksudmu menuliskannya? Aku tidak
mengerti.”
“Tolong
lepaskan,” Delila berontak.
“Tidak,
jawab dulu.”
“S,
saya pekerja di sini. Tidak baik berbicara saat bekerja.” Akhirnya genggaman
Baron meregang. “Permisi,” ucap Delila sambil membungkukkan badan. Kemudian
dengan cepat ia berlalu.
Baron
mematung. Orang-orang di sana sempat menatap aneh ke arahnya. Kemudian kembali
sibuk dengan kesibukan masing-masing. Baron kembali duduk. Pikirannya
menerawang. Kejadian barusan sangat mengusiknya. Tingkah gadis itu membuatnya
penasaran. Ia bertekad untuk menemuinya dan mencari tahu dari mulutnya
langsung.
***
“Cepat
katakan apa maumu.” Baron mencegat Delila di depan rumahnya. Saat itu pukul
empat sore. Delila baru saja pulang dari tempat kerjanya. Ia terkejut akan
kehadiran laki-laki itu. “Hei, ayo bicara. Aku tahu di kafe tadi hanya
alasanmu. Nah, sekarang katakan apa maksudmu menuliskan tulisan-tulisan aneh di
latte ku. Pelanggan yang lain hanya gambar seperti biasa. Hanya untukku yang
berbeda.”
Delila
berusaha untuk bersuara. Walaupun ia agak takut dengan orang yang ada di hadapannya
itu.
“A,
ayo kita berteman.”
“Hah?!”
Baron memfokuskan pendengarannya.
“A,
aku tidak tahu cara mengajakmu untuk jadi temanku. Ma, makanya aku….”
“Menuliskan
kalimat-kalimat aneh di atas kopi ku? Haaahhh…. Cuma itu saja kan bisa langsung
bicara!” Suara Baron meninggi.
“Aku
takut.” Delila menunduk. Baron diam. Ia tampak berpikir.
“Apa
wajahku terlihat seram?” Tanyanya dan dibalas anggukan oleh Delila.
Baron
membuang nafas. Kini misteri Delila telah terpecahkan. Tak disangkanya karena
alasan sesederhana itu.
“Baik,
sekarang kita berteman. Jangan lagi takut padaku. Dan juga jangan memandangku
seolah aku ini monster yang akan mengunyahmu sewaktu-waktu. Sekarang aku ini
te-man-mu! Mengerti?” Jelas Baron dengan menekankan kata teman di kalimatnya.
Delila mengangguk dan tersenyum senang. “Ayo kita rayakan,” ajak Baron.
“Kemana?”
“Ke
kafe. Aku mau minum latte kesukaanku.” Baron berlari menuju Rain Café.
“Hei!
Rain Café sudah tutup!” Teriak Delila. Sontak langkah Baron terhenti. Delila
kini menyusulnya.
“Bagaimana
ke kafe mawar saja di dekat taman?” Usul Baron.
“Boleh
saja. Hei, aku mau tahu apa rencana mu untuk kedepannya.”
Baron
memandang gadis itu.
“Maksudmu?”
Baron balik bertanya.
“Untuk
masa depan mu,” jawab Delila. Baron membuang muka.
“Kau
sudah seperti ayahku.”
“Ayahmu
tidak salah. Tidak mengherankan jika setiap orang tua mengkhawatirkan masa
depan anaknya.”
Baron
menerawang mencoba mencerna kata-kata gadis itu.
“Aku
hanya tidak ingin kuliah itu saja. Ayah seringkali menganggapku seperti anak
kecil.”
“Justru
tingkahmu yang membuatmu seperti anak kecil. Jangan sering minggat dari rumah.
Kan kasihan ayahmu,” nasihat Delila padanya. “Tidak apa-apa. Kamu Cuma harus
memikirkan sesuatu yang bias membuatmu sukses tanpa kuliah,” ujarnya lagi.
“Seperti
pebisnis?”
“Yap!”
Jawab Delila bersemangat. Dia mulai terbiasa dengan laki-laki itu.
“Bisnis
apa coba? Aku tidak punya ide.”
“Hmm…
apa ya? Aku juga belum memikirkannya. Sebisa mungkin aku ingin membantu.”
Sepi
menyelimuti keduanya. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing. Suasana di
sore itu mendung membuat langit terlihat gelap lebih awal.
“Bagaimana
kalau kita membuka kafe kecil-kecilan. Aku akan mengajarimu membuat latte,” usul
Delila memecah kesunyian.
“Ide
bagus! Kau pembuat latte yang hebat. Mungkin ayah akan menyetujuinya. Akan ku
bicarakan nanti dengannya. Mudah-mudahan ia mau mengerti.” Delila hanya
mengangguk. Mereka berbicara sambil berjalan dengan santai. “Del, umurmu 16
tahun kan? Lebih muda dariku. Omonganmu sudah seperti nenek-nenek.” Delila
tertawa mendengarnya.
“Daripada
kakek-kakek berbicara seperti anak-anak. Kamu tuh. Dewasa sedikit.”
“Ha
ha ha, iya. Aku seperti anak kecil. Menurutmu, apa nanti usahaku akan sukses?”
Delila
tampak berpikir sebelum memberikan jawaban. Kemudian ia tersenyum.
“Kamu
yang tahu bagaimana akhirnya nanti. Sudah ah! Bicaranya serius terus. Sudah
mulai gerimis, ayo cepat! Yang terakhir sampai traktir ya…”
Delila tertawa-tawa sambil berlari mendahului
Baron yan tampak kaget karena ditinggal. Kemudian ia juga ikut berlari mengejar
gadis itu. Gerimis sedikit demi sedikit semakin mengguyur deras menjadi hujan.
Mereka melindungi kepala mereka dengan punggung tangan masing-masing. Masih
terus berlari. Menuju kafe mawar untuk merayakan hari ini. Ditemani hujan yang
setia mengguyur dan tak ada yang tahu
kapan ia akan berhenti.

