06.00…
Seperti
biasa, sekolahku masih lengang. Aku juga telah beberapa menit yang lalu berada
di sini. Di bangku taman belakang sekolah ini. Jika ada yang mengira aku di
sini untuk menikmati tumbuhan di taman ini, mereka salah. Aku justru sedang
fokus mengamati hutan cemara yang berada beberapa puluh meter di belakang
sekolahku. Hutan itu agak gelap dan sangat sepi. Lebih tepatnya menyeramkan.
Tapi entah mengapa aku sangat mengagumi hutan itu. Hutan yang begitu damai dan
penuh ketenangan. Inilah hal yang selalu membuatku rindu untuk datang lebih
awal ke sekolah ini. Sssh, semilir angin membelai ranting-ranting cemara itu, aku
terpaku. Mengapa begitu indah ciptaan Tuhan yang satu ini.
“Ka,
met pagi! ke kelas yuk. Aku mau ngomong soal rapat OSIS besok.” Siska
membangunkanku dari lamunan. Baiklah, waktunya kembali ke dunia nyata.
***
“Yurika,
kamu ada waktu gak nanti siang?” Male tiba-tiba menyapaku.
”Emangnya
kenapa?”
“Nggak
ada sih, ng…nanti makan siang bareng mau ya.”
“Waduh
Le, gak bisa deh kayaknya. Aku ada janji nih sama Siska. Lain kali aja yah!”
Aku pun bergegas pergi.
Risih
juga sih, tiap hari diikutin mulu. Gak bosan apa ya tuh orang? Aku aja yang
diikutin bosan kok. Kalau dilihat dari gelagatnya kayaknya tuh orang naksir deh
sama gue. Hah, tapi sorry aja. Saat ini mood pacaran yang ku rasa sudah gak
ada. Ya, terakhir Raya. Cowok sialan itu. Kalau dasarnya memang playboy ya
tetap playboy. Akhirnya kandas juga. Yang namanya cowok tuh nggak usah
dipercaya deh. Awalnya sih kata-kata mereka memang manis, tapi yakinlah semua
itu nggak tulus. Tapi jomblo juga nggak enak lho. Kesepian, gak jarang juga
timbul rasa iri sama teman yang lagi romantis-romantisnya. Tapi bukan perasaan
itu yang kurasakan saat ini. Walaupun tidak punya pacar aku tetap tak merasa
kesepian, karena aku bisa terus menikmati suasana hutan cemara yang ada di
depanku. Sssshhh…ranting-ranting cemara melambai-lambai. Hmm, hutan cemaraku, sepertinya
aku tak kan pernah bosan tuk mengagumi keindahanmu.
Sedang
asyiknya aku melamun, tiba-tiba aku melihat sesuatu di hutan itu. Aku tersentak
kaget. Walaupun selalu kagum, tapi bayangan itu tetap bisa membuat nyaliku
ciut. Aku penasaran dengan apa yang kulihat barusan. Akhirnya aku memberanikan
diri. Kakiku mendekat perlahan. Bayangan itu kembali muncul. Walau sekilas tapi
aku melihatnya, sosok seorang gadis kecil. Dan sepertinya dia sedang kesusahan
karena aku juga melihat beberapa orang pemuda yang sepertinya sedang marah. Seorang
dari mereka tampak memukulnya. Mataku terbelalak. Keberanianku mendadak muncul
dan aku pun melangkah masuk ke hutan itu, guna menghajar pemuda yang memukul
gadis tadi. Aku terus melangkah, melangkah dan terus melangkah. Tanpa kusadari
aku telah begitu jauh masuk ke dalam hutan cemara yang semakin gelap.
Langkahku
baru terhenti di depan sebuah rumah tua. Sangat menyeramkan. Itulah kesan
pertamaku saat melihatnya. Rumah papan yang di penuhi tanaman merambat. Aku
agak bingung, ini hutan cemarakan? Aku melihat ke sekeliling dan ternyata ini
memang di dalam hutan cemara. Kok malah rumah menyeramkan ini yang ku temui? Sedangkan
bayangan-bayangan tadi telah lenyap. Bulu kudukku merinding.
“Hiyyyy…..kenapa
sih pake acara masuk kesini segala? Aku kan takut. Kalau bayangan gadis kecil
itu sekarang nggak ada, jadi apa dong yang kulihat tadi? Malah ada rumah lagi
di hutan sepi begini.”
Karena
terlalu takut akhirnya aku hanya duduk di bawah salah satu pohon cemara tak
jauh dari rumah tua itu. Aku tak tau harus berbuat apa, aku terlalu takut. Aku
juga tak mengerti mengapa aku bisa masuk ke hutan ini. Dan gadis kecil yang
kulihat tadi, semua telah lenyap. Saat itu aku menyadari aku hanya sendiri, benar-benar
sendiri. Bulu kudukku kembali merinding saat aku mendengar suara tangisan
seorang anak. Aku sempat berpikir suara itu berasal dari dalam rumah tua, tapi
masa sih rumah kayak gini ada penghuninya. Suara tangisan itu terasa tak jauh, dan
semakin jelas terdengar. Entah mengapa rasa takutku mendadak hilang, malah
sekarang rasa iba yang muncul di hatiku. Dengan perlahan aku mencoba menelusuri
di sekitar rumah tua itu. Sesekali aku melihat jam tangan yang melingkar cantik
di pergelangan tanganku. Bel pulang telah sejam yang lalu berbunyi. Hmm,
biarkan sajalah. Aku masih penasaran dengan segala yang kujumpai di hutan ini.
Berapa
kalipun ku telusuri tetap tak ku temui juga asal suara itu. Sedangkan hari
telah menjelang malam. Akhirnya aku
memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tua itu. Walaupun gelap ternyata di
dalamnya tak seseram yang kukira, terlihat klasik malah. Walau ada banyak debu
di sana-sini. Akupun memilih untuk berbaring di sofa tua di ruangan itu.
Hahhh…perasaanku begitu tenang setelah kepalaku ku darat kan di sofa itu. Rasa
lelah dan perasaan takutku pun hilang. Tiba-tiba suara itu muncul lagi. Aku
tersentak kaget. Dengan perasaan was-was aku pun berjalan ke arah datangnya
suara. Tibanya di sebuah kamar, aku melihat sosok seorang gadis kecil yang
kulihat dari bangku taman tadi pagi. Bersama pria muda di sampingnya yang
sepertinya sedang menenangkan gadis kecil itu.
“Diamlah
Letta, kan sudah kubilang kau tidak usah lagi memata-matai Alex. Biarkan dia
bertindak sesuka hatinya. Aku yakin suatu saat ibu pasti tahu.”
“Aku
tak bisa membiarkannya bertindak semaunya terhadapmu, kau bisa terluka.” Isak
tangis mengiringi suara gadis kecil itu.
“Aku
akan lebih terluka bila kau yang terluka.” Pria itu mendekapnya. Gadis itu
tampak lebih tenang sekarang. “Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sana?” Tiba-tiba
pria itu berkata. Aku yakin pertanyaan barusan adalah untukku karena dia menanyakan
“siapa”. Aku kaget. Dia membelakangiku dan tak melihatku sama sekali. Bagaimana
bisa dia menyadari kedatanganku? Dia memandangku dari sudut matanya untuk
memastikan bahwa aku memang di sana, sedang gadis itu masih ada di dekapannya.
“A,aku?
Ma, maaf aku masuk tanpa izin, tadinya aku hanya penasaran dengan suara gadis kecil
yang sedari tadi terdengar. Ta, tapi karena hari telah gelap, jadi aku…….”
“Tidak
masalah. Hmm, masuklah. Akan kuperkenalkan kau padanya.” Dia menunjukkan
wajahnya. Wow…tampan sekali makhluk satu ini. Siapakah dia dan mengapa dia ada
di sini? Sepertinya dia orang asing karena terlihat dari rambutnya yang pirang
dan hidungnya yang mancung. Dan dia tersenyum kepadaku, bibirnya seksi sekali.
Aku
melangkah perlahan mendekati mereka. Gadis kecil itu masih ada di dekapannya.
“Duduklah,
aku ingin tahu siapa orang yang telah mengunjungi kediaman kami.” Walau bingung
dengan perkataannya, aku tetap menurut. Kini aku ada di hadapannya, dan gadis
itu sekarang di lepasnya. “Perkenalkan, dia Violetta. Adik perempuanku
satu-satunya.” Aku melihat gadis bermata violet itu. Manis sekali, dan dia juga
berambut pirang.
“Hai,
kau manis sekali,” ujarku sejujurnya. Gadis kecil itu kembali memeluk kakaknya.
“Dia
pemalu, tapi dia anak yang baik kok. Aku Kevin. Kalau aku boleh tahu, bagaimana
caramu menemukan rumah ini?” Aku menatap lekat-lekat wajahnya. Benar-benar
ukiran maha karya. Aku tenggelam kedalam pesona indah matanya. Mata coklat muda
yang berkilau. “ Hai, kau mendengarkanku bukan?”
“Eh,oh,maaf.
Aku melamun. Bisa ulangi pertanyaanmu barusan?” Duuh Yurika…kamu tulalit banget
sih.
“Ha ha ha.. aku bilang namaku Kevin, dan aku
mau tahu caramu menemukan rumah ini, sekarang kau mendengarnya bukan?”
“Ehm..ya
Kevin. Hutan ini pemandangan favoritku. Aku tak pernah absen untuk memandangnya
setiap pagi dari taman sekolah. Tapi aku tidak tahu bahwa di hutan cemara ini
ada rumah.”
“Tentu.
Rumah ini jauh ke dalam. Oh ya,kamu….”
“Yurika,
namaku Yurika.”
“Oke
Yuri, apa alasanmu datang kemari?” Dia menatapku serius.
“Aku
melihat Letta.” Dia hanya diam. Aku tahu bahwa dia telah mengetahui maksudku.
“Kau
pasti melihatnya.”
“Tapi
Kevin, apa yang terjadi? Siapa mereka? Mengapa mereka melakukan itu pada Letta?”
Kevin hanya diam.
“Mereka
kakak-kakak kami. Dan Alex,kakak tertua kami, entah mengapa selalu memusuhiku.
Dan sekarang Letta menjadi sasaran kebenciannya karena terus membelaku. Aku tak
tau harus berbuat apa. Aku memang kakak yang tak berguna. Aku tak bisa
melindungi satu-satunya adik yang kusayangi.”
Ada
nada penyesalan di balik kalimat itu. Sementara itu Letta telah bisa lebih
tenang dan menerimaku dengan baik.
“Kevin,
aku tak tahu apa maksud dari perkataanmu barusan, tapi aku hanya bisa
mengatakan, tak ada orang yang ingin melihat orang yang di sayanginya terluka, karena
itulah kau harus selalau bisa melindungi adikmu yang paling kau sayang ini, bukan
begitu Letta?” Letta menyunggingkan senyumnya.
“Ya!”
“Terima
kasih atas nasihat mu. Sejujurnya aku agak bingung dengan pertemuan ini.”
“Mengapa
harus bingung? Kurasa kedatangan ku kemari adalah takdir.” Kataku sembari
tertawa.
“Ya
kak! Dan apakah kakak tahu? Kakak adalah yang pertama!” Ucap Letta kecil.
“Apa?
Apa maksudmu?”
“Sudahlah
Letta, jangan bicara lagi. Bukankah kau harus pergi untuk tidur?”
“Baiklah
kak!”
“Apa
yang dimaksud Letta dengan yang pertama?” Aku bertanya karena aku benar-benar
tak mengerti apa maksud gadis kecil itu berkata seperti itu. Dan sepertinya, Kevin
berusaha menyembunyikan sesuatu dariku.
“Tidak
Yuri, kau tak usah memikirkannya lagi. Oh iya, karena hari telah malam, bagaimana
kalau malam ini kau menginap di sini? Maukan?”
“Baiklah.
Terima kasih, memang itulah yang ku butuhkan.” Kevin tersenyum kepadaku, aku
merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. “Kevin!”Aku menghentikan langkahnya
ketika dia bermaksud keluar dari kamar itu.
“Ya?
Ada apa Yuri? Apakah ada yang bisa kubantu?”
“Tidak,
aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja karena kau terlihat begitu pucat.”
Dia terkejut. Terlihat dari ekspresi
wajahnya yang mendadak serius.
“Tidak
apa-apa Yuri, aku baik-baik saja. Aku sangat beruntung bisa betemu dengan teman
yang sangat perhatian terhadapku, terima kasih. Selamat malam.” Dia pun
meninggalkan ku sendiri di kamar itu.
Itulah
pertama kali aku berkenalan dengan sosok Kevin. Tak pernah kusangka sebelumnya
bahwa aku bisa bertemu dengan orang yang begitu tampan di tempat yang selama
ini ku kagumi. Sejak kejadian itu aku selalu datang ke rumah tua itu untuk
menemui Letta dan tentu saja Kevin. Aku telah menempatkannya di tempat paling
istimewa di hatiku. Aku sangat mengaguminya. Dia selalu bisa membuatku tertawa.
Dan dia sangat misterius. Karena itulah banyak hal yang tak ku ketahui tentang
Kevin, begitu pula perasaannya terhadapku.
“Kevin!”
Kataku pada suatu hari saat berada di rumah tua itu.
“Ya
Yuri?”
“Bolehkah
aku bersandar di bahumu? ”
“Ha
ha..ya, boleh saja kalau kau memang menginginkannya." Aku merasa tenang
saat berada di dekatnya. Dan saat itu juga aku tak bisa lagi untuk menahannya.
Ya, aku harus mengatakannya.
“Kevin,
aku sangat mencintaimu. Aku selalu tenang setiap bersamamu. Dan aku ingin kita
selalu bersama. Bagaimana menurutmu?” Dia tak bersuara, hanya diam seribu
bahasa. “Kevin, kau mendengarkanku bukan? Bagaimanakah menurutmu dengan
perasaanku? Apakah kau juga memiliki rasa yang sama terhadapku?”
Tanpa
kuduga sebelumnya, dia malah menjauh dariku.
“Aku…”
Kalimatnya menggantung.
“Ada
apa? Apa ada yang salah? Apa yang terjadi padamu?”
“Yurika,
aku yang salah. Seharusnya dari dulu telah kukatakan. Tapi aku terlalu takut
untuk mengatakannya. Maafkan aku Yurika, aku memang egois." Dia mundur
beberapa langkah.
“Apa
yang kau katakan? Aku tak mengerti apa maksudmu.” Dia menarik nafas.
“Yurika,
kau tak boleh mencintaiku!” Aku terbelalak.
“Apa?
Kenapa? Aku sungguh-sungguh mencintaimu!”
“Tidak
Yuri. Kita berbeda. Kau dan aku benar-benar berbeda." Aku hampir menangis
mendengar pengakuan darinya.
“Mengapa
kau berkata seperti itu?”
“Dengar
Yurika, aku hanya mengatakannya sekali. Aku… kau tak bisa mencintaiku. Kau dan
aku takkan pernah bisa bersatu. Karena aku memang telah lama menghilang dari
dunia ini.” Air mata yang dengan susah payah kutahan akhirnya mengalir juga.
“Apa?”
“Ya
Yurika, bahkan sejak pertama kali kau mengenalku. Maafkan aku Yurika, aku
benar-benar bodoh, hal sepenting ini seharusnya sudah lama ku katakan."
Aku
benar-benar tak percaya, orang yang selama ini membuatku selalu bahagia, orang
yang selama ini ku kasihi, hanyalah arwah. Aku terisak pelan. Semakin lama
semakin keras, aku tak dapat membendungnya lagi. Aku telah mendengar pernyataan
yang tak masuk akal, sangat membuatku terpukul.
“Yurika,
kumohon jangan menangis. Aku….” Dia menyentuh kedua pipiku.
“Kau
bohong! Tolong katakan bahwa kau berbohong padaku. Katakan bahwa kau memang
masih hidup. Dan bahkan aku bisa merasakan kehangatan kedua tanganmu….hah!”
Saat
itulah aku baru menyadari bahwa tangannya perlahan mengabur dan menghilang. Dan
saat itu juga aku menyadari bahwa dia tak ada lagi di hadapanku. Aku berlutut, dia
bahkan tak membalas perasaanku. Kau benar-benar jahat,aku tak ingin kehilangan
dirimu.
Kevin
Maafkan
aku karena meninggalkanmu. Aku benar-benar tak ada pilihan. Dan aku mohon
jangan berpikir bahwa cintamu tak terbalas. Aku benar-benar mencintaimu,
sangat. Tapi kita memang tak bisa bersatu. Kau jangan menangis karena
kepergianku. Di luar sana
ada seseorang yang mencintaimu. Datanglah padanya, aku yakin dia akan mampu
membuatmu bahagia. Sekali lagi, kumohon jangan menangis cintaku Yurika.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar