Sabtu, 18 Mei 2019

Berawal Dari Kafe Hujan




November. Di bulan ke-11 dalam perhitungan kalender Masehi ini hujan semakin meningkatkan intensitasnya. Udara dingin di mana-mana. Nafas pun terasa beruap. Langit yang selalu kelabu di atas sebuah kota kecil nan hijau. Di salah satu sudut kota yang sangat asri ini, mengepul asap dari sebuah pondok yang juga berwarna hijau segar. Senada dengan pemandangan di sekitarnya. Ruang depan ditutupi dengan dinding kaca berwarna hijau. Memberi kesan sejuk bila pelanggan memandangnya. Hujan buatan yang mengalir di dinding kaca menjadi ciri khas sebuah tempat bernama Rain Café. Namun, kali ini bukanlah imitasi. Hujan memang mengguyur deras memanjakan telinga orang-orang yang berada di ruangan itu. Pelanggan di sana umumnya mereka yang bersahabat dengan ketenangan.
“Ah, tiada yang lebih menyenangkan selain di sini,” celetuk salah satu dari pengunjung itu.
“Ha ha ha, bisa saja kamu,” respon teman di sebelahnya.
Di lain sudut. Masih di dalam Rain Café. Seorang pria berambut gondrong tampak menyendiri. Menatap setangkai mawar yang menatap tegak menantang balik matanya. Jarinya meraba duru-duri halus mawar itu, dan mata tajam yang seolah menatap mawar itu nyatanya menerawang tak pasti. Kosong. Enam menit yang lalu ia telah memesan secangkir latte. Belasan menit yang lalu ia bertengkar hebat dengan ayahnya, lagi. Dia lari saat itu, menghindari sang ayah yang terus meneriakinya. Yang menyebabkan ia terserempet motor dan terjengkang menghantam aspal yang keras di tengah guyuran hujan. Sisa kejadian itu tampak pada pelipis dan juga lengan kirinya yang luka. Begitupun rambutnya. Masih menyisakan tetes air hujan. Begitu terus kronologi peristiwa masa lalu terus berputar di kepalanya.
Dari yang baru beberapa saat terjadi hingga pikirannya melompat ke peristiwa yang telah jauh sebelumnya. Termasuk mata gadis pembuat latte yang sejak tiga hari yang lalu entah mengapa hobi sekali memandanginya. Hingga saat ini. Ia membelokkan sedikit kepalanya ke kiri mengarah pada bar tempat gadis itu sedang meracik latte pesanannya. Menghujam balik tatapan itu dan berhasil membuat gadis yang diam-diam memandanginya salah tingkah. Baron, nama pria itu, ia tersenyum sinis dan membuang muka. Menggelikan dan sangat mengganggu, pikirnya.
Sesaat kemudian latte nya tiba. Diantar oleh orang yang sama dengan tiga hari yang lalu. Juga yang suka mencuri pandang padanya. Dialah Delila. Baron cukup mengenalnya, karena mereka bertetangga. Seharusnya Baron lebih dari cukup mengenal dengan jarak tinggal mereka yang sedekat itu. Namun, karena persamaan mereka yang jarang bersosialisasi satu sama lain membuat mereka mengenal hanya sebatas nama dan saling pandang saja. Delila sendiri seringkali mendengar ketidakharmonisan Baron dengan ayahnya. Tak jarang juga menyaksikan laki-laki itu mengakhiri tengkarnya dengan membanting pintu pagar keras-keras. Baron tidak begitu akrab dengan teman-temannya. Saat itu Delila mengira pastilah Baron menenangkan pikiran dengan pergi ke suatu tempat. Ke warnet atau apa.
Sama seperti pertama kali ia datang dan memesan pesanan yang sama. Kali ini pun kening Baron berkerut melihat ke permukaan kopi itu. Setelah sebelumnya tertulis 'Hai' kali ini tertulis 'Apa kabar?' yang ditulis dalam tulisan tegak bersambung.
“Apa-apaan sih anak itu?” Desis Baron geram.
Walau begitu ia tetap menikmati kopi itu di tengah suasana dingin yang mendukung. Hujan masih setia membasahi dedaunan rimbun di sekitar Rain Café. Pengunjung di sana pun datang dan pergi silih berganti, sehingga jumlahnya tampak tak berkurang juga tak bertambah.
Pakaian Baron mulai mengering. Latte yang masih mengeluarkan uap sedikit demi sedikit dihirupnya. Terasa air yang hangat itu mengalir turun menuju pencernaannya. Terasa sangat nyaman. Sedikit mencairkan pikirannya yang membeku. Kembali ia teringat akan ayahnya di rumah. Satu-satunya orang tua yang ia punya. Kadang ada rasa sesal yang merayapi dadanya mengingat apa yang telah ia lakukan pada orang tua itu.
Namun ada pula rasa sakit hati. Mengingat ayahnya yang bersikeras menyuruhnya melanjutkan kuliah. Bukan bermaksud tidak bersyukur, ia hanya mengira itu akan sia-sia untuknya. Bayangkan saja biaya yang akan ditanggung ayahnya jika ia melanjutkan kuliah. Sedang jika ia menyelesaikan kuliahnya pun ia belum tentu juga mendapatkan pekerjaan. Sama saja artinya masa depannya belum terjamin. Ayahnya seringkali sok tahu tentang masa depannya. Memangnya apa yang orang tua itu tahu? Inikan hidupnya. Dialah yang paling tahu bagaimana nanti kehidupannya, pikirnya. Terbesit suatu kenyataan. Bahwa ia belum memikirkan satu pun jalan buat masa depannya. Ia menjambak rambutnya. Terukir ekspresi frustasi di wajah itu. Akhirnya ia meninggalkan latte nya yang tinggal seperempat dan pergi ke meja tempat pembayaran.
“Berapa, Pak?” Tanyanya kepada seorang pria tua sambil merogoh kantong.
“Tujuh ribu saja, Nak,” jawab pria itu. Ia adalah pemilik Rain Café yang memiliki empat pekerja lain selain Delila.
“Tidak menunggu saja, Nak? Di luar masih hujan,” ujar pria itu menawarkan.
“Tidak, Pak. Terima kasih. Ini uangnya.”
“Terima kasih kembali, Nak.” Sambil melangkah menuju pintu keluar, Baron sempat menyadari mata itu masih terus menatapnya.
***
Dua hari berikutnya, dalam suasana hujan yang sama. Baron kembali menjajaki kakinya di lantai Rain Café. Meletakkan payungnya begitu saja dalam keadaan terbuka. Kali ini ia tak lagi dalam keadaan berantakan. Tidak juga dengan keadaan hati yang bergelut. Tidak ada pertengkaran pagi ini. Mungkin ayahnya telah bosan menceramahinya. Atau mungkin ayahnya menyadari tak ada gunanya memukul batu. Ia tidak akan berubah dari pendiriannya.
Tempat itu masih lengang. Baron memilih tempat kesukaannya, di dekat dinding kaca di dekat sudut ruangan. Begitu sepi dan tenang.
“Mau pesan apa?”
Seorang pelayan menghampirinya. Tidak, bukan Delila. Entah mengapa hanya dirinya yang tak pernah dihampiri oleh gadis itu.
“Latte seperti biasa. Eh Mbak, kalau boleh tahu siapa saja pembuat latte di kafe ini?”
“Pembuat latte cuma satu orang. Dik Delila. Karena cuma dia yang pintar membuat latte art di sini. Untuk jenis kopi lain ada beberapa orang lainnya,” Jelas pelayan itu. Kemudian ia berlalu.
Baron sebenarnya tak terlalu menghiraukan buatan siapa kopi kesukaannya itu. Rasanya memang enak. Beberapa saat kemudian pesanannya telah sampai. Namun lagi-lagi ada tulisan diatasnya, bukan gambar seperti latte art pada umumnya. Kali ini bertuliskan 'kabar ayah?' yang juga dalam tulisan tegak bersambung. Baron kembali gusar. Saat ia memandang siapa yang baru saja meletakkan kopi itu di mejanya, ternyata wajah Delila di sana.
“Hei, tunggu!” Baron menarik lengan gadis itu sebelum ia sempat berlalu. Delila berusaha melepaskan cengkraman itu. “Apa maksudmu menuliskannya? Aku tidak mengerti.”
“Tolong lepaskan,” Delila berontak.
“Tidak, jawab dulu.”
“S, saya pekerja di sini. Tidak baik berbicara saat bekerja.” Akhirnya genggaman Baron meregang. “Permisi,” ucap Delila sambil membungkukkan badan. Kemudian dengan cepat ia berlalu.
Baron mematung. Orang-orang di sana sempat menatap aneh ke arahnya. Kemudian kembali sibuk dengan kesibukan masing-masing. Baron kembali duduk. Pikirannya menerawang. Kejadian barusan sangat mengusiknya. Tingkah gadis itu membuatnya penasaran. Ia bertekad untuk menemuinya dan mencari tahu dari mulutnya langsung.
***
“Cepat katakan apa maumu.” Baron mencegat Delila di depan rumahnya. Saat itu pukul empat sore. Delila baru saja pulang dari tempat kerjanya. Ia terkejut akan kehadiran laki-laki itu. “Hei, ayo bicara. Aku tahu di kafe tadi hanya alasanmu. Nah, sekarang katakan apa maksudmu menuliskan tulisan-tulisan aneh di latte ku. Pelanggan yang lain hanya gambar seperti biasa. Hanya untukku yang berbeda.”
Delila berusaha untuk bersuara. Walaupun ia agak takut dengan orang yang ada di hadapannya itu.
“A, ayo kita berteman.”
“Hah?!” Baron memfokuskan pendengarannya.
“A, aku tidak tahu cara mengajakmu untuk jadi temanku. Ma, makanya aku….”
“Menuliskan kalimat-kalimat aneh di atas kopi ku? Haaahhh…. Cuma itu saja kan bisa langsung bicara!” Suara Baron meninggi.
“Aku takut.” Delila menunduk. Baron diam. Ia tampak berpikir.
“Apa wajahku terlihat seram?” Tanyanya dan dibalas anggukan oleh Delila.
Baron membuang nafas. Kini misteri Delila telah terpecahkan. Tak disangkanya karena alasan sesederhana itu.
“Baik, sekarang kita berteman. Jangan lagi takut padaku. Dan juga jangan memandangku seolah aku ini monster yang akan mengunyahmu sewaktu-waktu. Sekarang aku ini te-man-mu! Mengerti?” Jelas Baron dengan menekankan kata teman di kalimatnya. Delila mengangguk dan tersenyum senang. “Ayo kita rayakan,” ajak Baron.
“Kemana?”
“Ke kafe. Aku mau minum latte kesukaanku.” Baron berlari menuju Rain Café.
“Hei! Rain Café sudah tutup!” Teriak Delila. Sontak langkah Baron terhenti. Delila kini menyusulnya.
“Bagaimana ke kafe mawar saja di dekat taman?” Usul Baron.
“Boleh saja. Hei, aku mau tahu apa rencana mu untuk kedepannya.”
Baron memandang gadis itu.
“Maksudmu?” Baron balik bertanya.
“Untuk masa depan mu,” jawab Delila. Baron membuang muka.
“Kau sudah seperti ayahku.”
“Ayahmu tidak salah. Tidak mengherankan jika setiap orang tua mengkhawatirkan masa depan anaknya.”
Baron menerawang mencoba mencerna kata-kata gadis itu.
“Aku hanya tidak ingin kuliah itu saja. Ayah seringkali menganggapku seperti anak kecil.”
“Justru tingkahmu yang membuatmu seperti anak kecil. Jangan sering minggat dari rumah. Kan kasihan ayahmu,” nasihat Delila padanya. “Tidak apa-apa. Kamu Cuma harus memikirkan sesuatu yang bias membuatmu sukses tanpa kuliah,” ujarnya lagi.
“Seperti pebisnis?”
“Yap!” Jawab Delila bersemangat. Dia mulai terbiasa dengan laki-laki itu.
“Bisnis apa coba? Aku tidak punya ide.”
“Hmm… apa ya? Aku juga belum memikirkannya. Sebisa mungkin aku ingin membantu.”
Sepi menyelimuti keduanya. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing. Suasana di sore itu mendung membuat langit terlihat gelap lebih awal.  
“Bagaimana kalau kita membuka kafe kecil-kecilan. Aku akan mengajarimu membuat latte,” usul Delila memecah kesunyian.
“Ide bagus! Kau pembuat latte yang hebat. Mungkin ayah akan menyetujuinya. Akan ku bicarakan nanti dengannya. Mudah-mudahan ia mau mengerti.” Delila hanya mengangguk. Mereka berbicara sambil berjalan dengan santai. “Del, umurmu 16 tahun kan? Lebih muda dariku. Omonganmu sudah seperti nenek-nenek.” Delila tertawa mendengarnya.
“Daripada kakek-kakek berbicara seperti anak-anak. Kamu tuh. Dewasa sedikit.”
“Ha ha ha, iya. Aku seperti anak kecil. Menurutmu, apa nanti usahaku akan sukses?”
Delila tampak berpikir sebelum memberikan jawaban. Kemudian ia tersenyum.
“Kamu yang tahu bagaimana akhirnya nanti. Sudah ah! Bicaranya serius terus. Sudah mulai gerimis, ayo cepat! Yang terakhir sampai traktir ya…”

 Delila tertawa-tawa sambil berlari mendahului Baron yan tampak kaget karena ditinggal. Kemudian ia juga ikut berlari mengejar gadis itu. Gerimis sedikit demi sedikit semakin mengguyur deras menjadi hujan. Mereka melindungi kepala mereka dengan punggung tangan masing-masing. Masih terus berlari. Menuju kafe mawar untuk merayakan hari ini. Ditemani hujan yang setia mengguyur  dan tak ada yang tahu kapan ia akan berhenti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar